Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 April 2013

Thanks To My Teacher

Hari ini badan terasa lemas, lagi kerja tiba- tiba buka fb dan ada gambar sekolah sma ku. Kok tiba-tiba kangen keadaan dan suasana disna ya..:'(

Gak perlu mikir panjang lebar, aku langsung search di google tentang sekolah SMAN 4 Pandeglang dan ketemulah dengan situs resminya, entah kenapa tiba- tiba tergerak untuk  menjadi member disana. Melihat foto guru-guru yang terpampang jelas disana membuat ku semakin merindukan mereka. Ini sekilas kehidupanku di sma 4 yang sudah memberika harapan sehinga aku bisa sekolah. Thanks…

Seorang gadis bernama nasphie, berjala lunglai ketika dinyatakan lulus dari SMP. Walau  nilai bagus dan prestasi bagus, fikirannya tidak lepas dari masa depannya melanjutkan sekolah. Bisakah dia melanjutkan ke sekolah SMA yang notabenenya membutuhkan biaya yang besar dan SPP tiap bulannya?

Disaat lamunannya terjaga, salah satu guru matematka di SMP nya mendekati . 
“ Kamu kenapa?” tanyanya ramah. Gadis itu tersenyum sambil mendekap amplop berisi formulir pendaftaran ke SMA.
“ Sini bapak lihat,,” sahutnya lagi. Gadis itu tetap tersenyum walau guratan di wajahnya terlihat sedih. Pak anton, guru matematika di smp nya itu tersenyum.
“Kamu mau melanjutkan ke SMA 4 Pandeglang?” tanyanya. Gadis itu menggagguk semangat.
“ Tapi saya ngga punya biaya nya pak,,masuknya aja sampe berjuta-juta,,,saya dapat dari mana..?” keluh gadis itu pelan. Pak anton terdiam sejenak, seolah berfikir keras.
  Sekarang pendaftaran terakhir?” tanyanya ramah. Gadis itu mengagguk tanda mengiyakan.
“ Yaudah, besok kamu bawa sertifikat penghargaan atas prestasi kamu di sekolah ini,, nanti bapak yang usahakan…kamu berdoa ya semoga bapak berhasil…” sahutnya sambil tersenyum, Spontan gadis itu tersenyum gembra, gurat kesedihannya seolah hilang tergantikan dengan binar kebahagiaan.
“ Pasti pak…makasih ya pak..” seru gadis itu sambil pergi dengan bahagia.

Singkat cerita gadis itu dinyatakan masuk ke SMA 4pandeglang, namun ia masih kebingungan untuk menemui pak Anton yang mengusahakan biayanya, karena walaupun diterima di sekolah SMA, jika belum membyar tetap saja belum terdaftar resmi.
“ Pak,,,gimana ?” tanya gadis itu berharap harap cemas setelah bertemu dengan pak anton. Guru itu membalasnya dengan senyuman. Gadis itu mengerti, dia tak perlu bertanya lagi, dia bahagia tersenyum dan mencium tangan gurunya.
“ Terima kasih pak….” Seru gadis itu sambl terisak.
“ Ya,,pihak sekolah mau meringankan beban pendaftaran kamu,,kamu hanya tinggal bayar setengahnya saja…dan untuk SPP selama 6 bulan kamu gratis,,,” sahut pak anton ramah sambil mengusap kerudungku.
 “Alhamdulillah,,makasih pak..” jawab gadis itu menahan tangis namun tersenyum bahagia.
“ Tapi,,,kalau kamu mau dapat gratis SPP lagi,,kamu harus pertahankan prestasi kamu dengan minimal masuk dalam tiga juara besar di sekolah….” Sahut pak anton lagi. Gadis itu tidak dapat berkata lagi, masa depannya, mimpinya untuk sekolah semakin jelas di hadapannya.
“ Saya mengerti pak,,,terima kasih….”

Waktu berjalan, gadis itu kini sekolah di SMAN 4 Pandeglang, sekolah dengan tingkat kebersihan nomor satu se provinsi, kedisiplinan dan kerja sama antar semua elemen dalam sekolah menjadikan SMA 4 adalah sekolah terpandang.
Gadis itu terus berusah belajar dan menonjolkan dirinya di sekolah, selalu berusha dekat dengan gurunya, menjadikan sekolah adlah rumah. Setiap semester gadis itu selalu berharap cemas akankah prestasinya menurun sehingga ia akan dibebankan dengan setumpuk bayaran.

Pada akhirnya, saat kelas XI semester satu, munculah siswa pindahan dari sekolah di kota dan brhasil menggeser peringkat satu si gadis. Walaupun hanya beda satu angka tetap saja ini menjadi pukulan besar buat si gadis. Fikirannya tentang bayaran sekolahlangsung menumpuk di kepalanya.

Siang itu dia dipanggil guru kesiswaan, dan ditanya tentang hal itu. Gadis itu hanya terdiam, dia sadar kelalaiannya sampai prestasinya turun satu angka. Tapi guru itu tersenyum, dia mengelaus tangan gadis itu yang berkeringat.
“ Tidak apa-apa…kamu hanya turun satu peringkat saja…semeseter depan harus peringkat satu lagi ya…” sahutnya pelan dan ramah. Gadis itu mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca tidak percaya begitu baiknya sekolah ini.
“ Tapi bu,,apa tidak –apa-apa?” tanya gadis itu memastikan. Guru itu menggelengkan kepalanya.
“ Tidak nas….kamu sudah memberi banyak prestasi pada sekolah ini, perlombaan dan piagam-piagam di sekolah ini juga ada hasil dari kamu….kamu harus tetap semangat ya..” sahutnya. Gadis ini tidak dapat berkata-kata lagi, dia hanya menganggukan kepalanya.

Semester berikutnya, gadis ini dapat kembali seperti semula. Meraih peringkat yang telah diambil oleh siswi pindahan.  Yah, dia berhasil dan mampu lulus dari SMA 4 Pandeglang dengan prestasi yang baik.

Gadis ini adalah aku, yah aku sendiri yang begitu bodoh untuk menyadari betapa besar pemberian mereka kepadaku. Guru- guru di sekolah yang begitu baiknya memberikan ilmu mereka, bersabar terhadap murid-murid mereka yang terkadang mendoakan yang tidak baik, menceloteh dengan serampangan.

Terkadang aku lupa untuk mengucapkan ribuan terima kasih kepada guru-guruku tercinta yang telah memberkan kesempatan pada ku untuk sekolah. Aku janji, saat menjadi sukses nanti, kalianlah yang akan aku ingat selalu. Jika diberikan kesempatan, aku ingin memberikan prestasi lagi untuk sekolah ini. :"(

Kuucapkan ribuan terima kasih kepada guru di SMAN 4 Pandeglang, yang memberikan jalan dan mimpi yang hebat. Teruslah seperti itu, terimalah kami yang tidak mampu dalam hal material tapi kami akan membalasnya dengan prestasi yang emmbanggakan.

Senin, 14 Januari 2013

With Superstar


Pagi ini Raisya berangkat lebih awal menuju ke kesekolahnya, bukan tanpa alasan dikarenakan hari sebelumnnya dia telat masuk sekolah dan hari ini pak kepala sekolah sendiri yang turun di depan gerbang untuk menunggu kedatangan raisya.
“ Aishhhh,,,,pak kepsek gak tahu apa kalo gue harus nunggu mobil bus yang antriannya panjang banget kaya mau ngambil sembako…” Gerutu raisya sendiri sambil memasuki gerbang sekolahnya. Ia mengendap ke kiri dan kenan mencoba memperhatikan keadaan sekitar gerbang sekolah. Namun tak ditemukan pak kepala sekolah disana.

Hujan tiba-tiba turun deras, spontan raisya kocar kacir mencari tempat perlindungan, karena jalan menuju depan kelas dari gerbang lumayan jauh, sambil berlari ia tundukan kepala sambil menutupnya dengan tas yang raisya pakai. Namun sebuah mobil BMW merah dengan manisnya melewati raisya tanpa pamit sehingga genangan airdi sekitar gerbang menyembur ke tubuh raisya. Lenkap sudah. Tanpa berkta raisya terdiam seperi patung seketika.
“ Apa..ap..apaan nih…..” teriaknya baru tersadar setelah beberapa menit berdiri mematung.
“Hey,,mobil merah..berhenti lo…..woy….” Teriak Raisya marah sambil berlari dibelakang mobil, namun sipengendara mobil nampaknya tak bergeming sedikitpun. Entah karena tidak mendengar atau pura-pura tak mendengar.
“Ohhh…mau cara lebih kasar…..oke…” Sahut raisya lagi pelan namun dalam sambil berdiri memungut batu didepannya dan bersiap melemparkan batu tersebut kearah mobil merah, dengan gaya yang tajam raisya melemparkan batu  dan “ DUK>>>PRAY…” Merasa kaca mobilnya pecah si pengendara baru tersaadar dan langung keluar dengan muka marah tak termaafkan.

Jumat, 27 Januari 2012

Dreams Part II

Ekhem,,kemarin aku udah posting cerpen dreams part I pastinya setelah part I akan ada Part II ,hehehe..ceritanya ini kelanjutan cerpen dreams part I dan kayaknya cukup sampai part II aja ya,, Semoga bisa menikmati.

Aku menangis, air mataku menetes membasahi wajahnya. Lelaki ramah itu kini berada di pangkuanku.
“ Tenanglah, jangan menangis..aku akan selalu menjagamu..” Sahutnya pelan sambil mncoba untuk tersenyum dan  darah keluar dari mulutnya. Lelaki itu mengelus pipiku lembut.
Aku tersadar dari mimpiku, mataku sembab, wajahku basah karena air mata. Mimpi itu benar- benar menyiksa batinku.Aku terbangun lunglai dan membasuh wajahku yang kusam. Mama dan papa menatapku dalam saat aku memasuki ruang makan.
“Ada apa ma, pa..?” Tanyaku heran. Mereka tersenyum semanis mungkin mencoba menghilangkan kekhawatirannya.
“ Everything is fine, baby..” Jawab papa sambil tersenyum. Aku terdiam, kurasa ada yang janggal mereka seperti menyembunyikan sesuatu dariku.

Kamis, 26 Januari 2012

Dreams Part I

Seorang lelaki ramah memandangku hangat, aku tersenyum manis. Dia membalasnya dan terlihat sangat menyayangiku. Kami berhadapan namun sayang wajahnya terlihat samar-samar tidak nampak jelas seperti yang kuharapkan. Aku menggunakan gaun putih cantik dan dia menggunakan jas hitam. Kami semua berbahagia. Tidak berapa lama lelaki ramah itu sudah berada di pangkuanku dengan tubuh lemas dan berlumuran darah. Aku menjerit dan seketika terbangun dari mimpiku.
“ Ya Tuhan, kenapa mimpi itu datang lagi..ada apa sebenarnya?” Sahutku bergetar sambil mengusap keringat di wajahku. Aku tertegun, berusaha mengingat kejadian aneh dalam mimpiku, namun semakin aku memaksa mengingat kepalaku semakin sakit.
Paginya aku bergegagas menuju ruang makan, mama dan papa sudah terlebih dahulu berada di sana. Aku diam, mama memandangku heran, namun aku memandangnya dan tersenyum.
 

Nas_phie Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates